Minggu kedua liburan sekolah, atau tepatnya tanggal 9 Juli 2007, kami sekeluarga telah mempersiapkan koper dan barang-barang lainnya ke dalam bagasi mobil. Tujuannya, obyek wisata Jatiluhur
. Tujuan selanjutnya? Belum tahu……
. Mengapa kami memilih Jatiluhur? Karena Gurunya Amanda sering bercerita di depan kelas tentang keindahan alam obyek wisata Jatiluhur.
Jam 7 pagi kami mulai berangkat dari Pintu Tol Bekasi Barat, melalui Tol Cipularang dan kemudian keluar dari Pintu Tol Jatiluhur. Petunjuk ke arah lokasi cukup jelas, tapi ada 2 pertigaan yang cukup membingungkan kami. Setelah bertanya sana-sini, akhirnya tibalah kami di Jatiluhur.
Benar juga, pemandangan alamnya sangat indah. Tapi yang mengherankan, tempat ini sangat sepi pada liburan sekolah minggu kedua. Padahal katanya minggu lalu sangat ramai. Warung-warung disepanjang pinggiran danaupun banyak yang tutup. Rencananya sih kami ingin mengelilingi danau, tapi ternyata kami harus kembali ke tempat semula karena terhambat oleh kemacetan pasar, entah pasar apa namanya……..
Sesekali kami berhenti untuk parkir dan mampir ke pinggir danau, dan biasanya kami didatangi oleh tukang perahu yang menawarkan penyewaan perahu tsb. Tapi berhubung penawarannya cukup mahal, Rp. 60.000,-, kami memutuskan untuk tidak naik perahu. Mungkin karena sepi pengunjung, saya dengar tukang perahu tsb akhirnya menawarkan Rp. 30.000,- ke calon penumpang lainnya.
Setelah itu Papa mengajak kami mengunjungi Turbin. Aku sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan Turbin, pokoknya kata Papa bahwa Turbin adalah pembangkit tenaga listrik untuk penerangat rumah kita, termasuk untuk nonton TV.
Sebenarnya tempat tersebut tidak dapat dimasuki oleh umum, kecuali yang telah membawa surat izin. Tapi setelah Papa menanyakan bagaimana cara masuk ke sana, mereka mempersilahkan kami masuk dengan membayar Rp. 30.000,- tanpa karcis.
Saat mobil kami perlahan menyusuri puncak dinding tanggul yang sangat tinggi, sebenarnya ada sedikit rasa waswas karena takut kalau-kalau tanggul ini jebol. Tapi karena Papa & Mama tenang-tenang saja, hatipun mulai tenang. Kami sempat menengok ke dalam lubang turbin yang sangat besar, tapi sayang sekali karena saat itu turbin sedang tidak bekerja sehingga tidak terdengar suara gemuruh seperti yang diceritakan oleh Ibu Guru.
Tepat jam 10 pagi, kami merasa cukup puas menikmati pemandangan alam, dan memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung, atas permintaan Prima. Juga karena posisi kami sudah lebih dekat ke arah Bandung daripada kembali lagi ke Jakarta.



Wisata jatiluhur mana yang paling disukai orang.
Comment by Bimo — 22 November 2008 @ 11:59 am